Permasalahan banjir di wilayah Bandung Raya tidak pernah lepas dari buruknya manajemen limbah padat di wilayah dataran tinggi yang menjadi daerah tangkapan air. Sampah domestik, plastik, hingga limbah pertanian yang dibuang sembarangan di wilayah atas akan mengalir mengikuti arus menuju Sungai Citarum, menyebabkan pendangkalan dan penyumbatan drainase di wilayah hilir. Menanggapi situasi yang sistemik ini, HAKLI Wilayah Bandung menginisiasi sebuah Forum Kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi terpadu dalam menangani fenomena Sampah Hulu Sungai yang kian mengkhawatirkan dan mengancam kesehatan lingkungan masyarakat perkotaan.
Kegiatan forum ini melibatkan sinergi antara pakar lingkungan, akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas pecinta sungai. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah menciptakan sistem tata kelola sampah yang tuntas di titik sumber sebelum mencapai badan air. Tenaga sanitarian dari HAKLI memberikan kontribusi teknis mengenai desain tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang memenuhi standar kesehatan dan tidak mencemari tanah. Di wilayah Bandung, pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat melalui bank sampah dan pengolahan kompos skala rumah tangga di desa-desa yang berada di daerah lereng perbukitan. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang berpotensi “terjun” ke sungai saat hujan deras melanda.
Salah satu inovasi yang lahir dari forum ini adalah penggunaan teknologi penghalang sampah (trash boom) yang dipadukan dengan pengawasan rutin oleh kader kesehatan lingkungan desa. Namun, HAKLI menekankan bahwa teknologi hanyalah alat; perubahan perilaku masyarakat adalah kunci utama. Melalui edukasi yang konsisten, warga di wilayah hulu diajak untuk memahami bahwa sungai bukanlah tempat sampah raksasa yang bisa menghilangkan masalah secara instan. Dampak buruk dari sampah yang menumpuk di sungai mencakup peningkatan risiko penyakit tular air (waterborne diseases) dan rusaknya estetika alam yang sebenarnya memiliki potensi wisata tinggi di Jawa Barat.
Secara teknis, hasil diskusi dalam forum ini diubah menjadi rekomendasi kebijakan yang didorong masuk ke dalam peraturan daerah mengenai pengelolaan lingkungan hidup. HAKLI Bandung berperan dalam melakukan audit sanitasi di sepanjang bantaran sungai untuk mengidentifikasi titik-titik rawan pembuangan ilegal. Data audit ini sangat penting bagi aparat penegak hukum dan dinas kebersihan untuk melakukan tindakan preventif maupun kuratif. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa masalah lingkungan yang besar tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan keterlibatan kolektif dari para ahli yang memiliki integritas dan kompetensi di bidangnya.
