Revitalisasi Ruang Terbuka Hijau: Tinjauan Ahli HAKLI Bandung Terhadap Tata Ruang Kota yang Sehat

Bandung, yang dikenal dengan sebutan Paris van Java, kini menghadapi tantangan serius akibat pesatnya urbanisasi yang mengorbankan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) cabang Bandung merilis tinjauan kritis terhadap Tata Ruang Kota saat ini, mendesak adanya upaya revitalisasi Ruang Terbuka Hijau yang masif dan terstruktur untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih sehat dan berkelanjutan. Tinjauan ini menegaskan bahwa RTH bukan sekadar estetika, tetapi infrastruktur kesehatan publik yang vital.

Tinjauan HAKLI terhadap Tata Ruang Kota Bandung menunjukkan bahwa proporsi RTH publik masih jauh di bawah batas minimal 30% dari luas wilayah kota, sesuai amanat undang-undang. Kesenjangan ini berdampak langsung pada kualitas lingkungan. RTH berfungsi sebagai penyaring alami Polusi Udara, peredam kebisingan, dan area resapan air yang sangat penting untuk mitigasi banjir. Dengan minimnya RTH, Bandung menjadi rentan terhadap peningkatan suhu (fenomena urban heat island), kualitas udara yang buruk, dan masalah sanitasi akibat minimnya resapan air.

Revitalisasi Ruang Terbuka Hijau yang direkomendasikan HAKLI mencakup dua aspek: mempertahankan RTH yang sudah ada dan menciptakan RTH baru secara inovatif. Mempertahankan RTH yang ada berarti pengetatan izin pembangunan di area hijau dan pengawasan ketat terhadap alih fungsi lahan. Sementara itu, penciptaan RTH baru harus dilakukan dengan memanfaatkan area-area terlantar atau Tata Ruang Kota yang vertikal (seperti green roof atau vertical garden). HAKLI mengusulkan pembuatan green corridors yang menghubungkan RTH-RTH kecil, menciptakan jaringan ekologis yang berkelanjutan di seluruh kota.

Rekomendasi HAKLI mengenai Tata Ruang Kota juga menekankan pentingnya RTH sebagai ruang sosial dan promosi kesehatan mental. Taman kota yang aman, bersih, dan mudah diakses mendorong aktivitas fisik, mengurangi stres, dan meningkatkan interaksi sosial antar warga. Oleh karena itu, RTH harus dirancang secara inklusif, memastikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, anak-anak, dan lansia. HAKLI menempatkan Ruang Terbuka Hijau sebagai pilar fundamental dalam pencegahan penyakit tidak menular (PTM) yang terkait dengan gaya hidup.

HAKLI Bandung menegaskan bahwa Revitalisasi Ruang Terbuka Hijau adalah investasi kesehatan jangka panjang. Dengan menyesuaikan Tata Ruang Kota agar lebih berpihak pada alam dan kesehatan publik, Bandung tidak hanya akan memulihkan julukan sebagai kota kembang yang indah, tetapi juga menjadi kota yang secara fundamental lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.