Untuk memastikan lingkungan tetap bersih dan sehat, dibutuhkan lebih dari sekadar kampanye sesaat. Diperlukan sebuah Program Edukasi Kebersihan yang berkelanjutan, yang mampu menanamkan kesadaran dan kebiasaan baik pada masyarakat secara terus-menerus. Program ini harus mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilahan sampah, daur ulang, hingga pengurangan limbah, dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Pada 18 Oktober 2025, SMPN 35 Jakarta Pusat meluncurkan sebuah Program Edukasi Kebersihan yang diberi nama “Sekolah Bersih, Sehat, dan Lestari”. Program ini melibatkan siswa, guru, dan staf sekolah. Setiap hari Jumat, siswa dan guru secara bergantian melakukan piket kebersihan di area sekolah. Mereka tidak hanya membersihkan, tetapi juga memilah sampah organik dan anorganik di tempat yang sudah disediakan. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik akan diserahkan ke bank sampah terdekat. Menurut Kepala Sekolah, Bapak Bambang, program ini adalah cara efektif untuk mengajarkan disiplin dan tanggung jawab. “Kebiasaan baik itu harus dilatih setiap hari,” ujarnya.
Tak hanya di lingkungan sekolah, program ini juga merambah ke masyarakat. Pada 23 November 2025, SMPN 35 bekerja sama dengan aparat kepolisian dari Polsek Metro Tanah Abang mengadakan sosialisasi kebersihan lingkungan di lingkungan sekitar sekolah. Petugas kepolisian menyampaikan bahaya membuang sampah sembarangan dan dampaknya terhadap kesehatan. Acara ini dihadiri oleh puluhan warga dan kepala RT setempat. Inisiatif ini adalah bukti nyata bahwa sebuah Program Edukasi Kebersihan dapat melampaui batas-batas sekolah dan melibatkan seluruh komunitas.
Lalu pada 14 Desember 2025, Dinas Lingkungan Hidup Kota Jakarta memberikan apresiasi kepada SMPN 35 atas programnya yang dinilai berhasil. Mereka bahkan merencanakan untuk mengadopsi model program ini di 50 sekolah lain di seluruh wilayah Jakarta. Keberhasilan ini tidak lepas dari konsistensi dan komitmen semua pihak. Sebuah Program Edukasi Kebersihan yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan dana atau fasilitas, tetapi yang terpenting adalah kemauan dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Dengan demikian, kebersihan lingkungan tidak lagi menjadi tugas berat, melainkan menjadi bagian dari budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, demi masa depan yang lebih baik.
