Kota Bandung sebagai pusat pendidikan dan kreativitas telah menjadi rumah bagi puluhan ribu mahasiswa dan pekerja dari luar daerah. Akibatnya, bisnis hunian sewa atau yang akrab disebut kos-kosan tumbuh subur di setiap sudut kota, mulai dari kawasan Coblong, Jatinangor, hingga Buah Batu. Namun, kepadatan hunian ini seringkali tidak dibarengi dengan pemeliharaan lingkungan yang memadai. Isu mengenai kos-kosan sehat kini menjadi perhatian serius, mengingat ruang hunian yang sempit dan kurang ventilasi dapat menjadi sumber penularan berbagai penyakit infeksi dan gangguan kesehatan mental bagi penghuninya.
Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) melalui perwakilan di Jawa Barat mulai mengintensifkan langkah preventif melalui program pengawasan secara berkala. Fokus dari pengawasan sanitasi ini mencakup beberapa parameter utama, yaitu ketersediaan air bersih, sistem pembuangan air limbah, pencahayaan alami, dan kepadatan hunian dalam satu kamar. Di Kota Bandung, banyak ditemukan bangunan kos yang memaksakan jumlah kamar tanpa memperhatikan rasio kecukupan sirkulasi udara. Hal ini mengakibatkan ruangan menjadi lembap dan memicu pertumbuhan jamur yang berdampak buruk pada sistem pernapasan penghuninya.
Implementasi standar kesehatan di hunian sewa ini melibatkan kerja sama antara pemilik properti dan tenaga profesional kesehatan lingkungan. Para ahli dari HAKLI memberikan bimbingan mengenai bagaimana merenovasi ruang yang sudah ada agar memenuhi syarat kesehatan tanpa harus membongkar total bangunan. Misalnya, dengan penambahan ventilasi silang atau penggunaan material dinding yang tidak menyimpan kelembapan tinggi. Selain itu, manajemen sampah di area kos-kosan juga diperketat. Pemilik kos diwajibkan menyediakan tempat sampah terpilah untuk meminimalisir penumpukan sampah organik yang dapat mengundang vektor penyakit seperti lalat dan kecoa.
Keamanan air minum dan air bersih juga menjadi poin kritis dalam inspeksi ini. Mengingat sebagian besar wilayah di Kota Bandung menggunakan air tanah, pemeriksaan rutin terhadap jarak antara tangki septik dengan sumur bor menjadi harga mati. Kontaminasi bakteri koli seringkali terjadi pada pemukiman padat karena tata letak infrastruktur sanitasi yang tidak direncanakan dengan baik. HAKLI mendorong pemilik kos untuk melakukan uji laboratorium terhadap kualitas air minimal satu kali dalam setahun untuk menjamin kesehatan para penghuninya yang mayoritas adalah generasi muda sebagai aset masa depan bangsa.
