Bandung telah lama dikenal sebagai surga kuliner bagi para pencinta makanan jalanan. Kehadiran berbagai pedagang kaki lima (PKL) yang sering kali menjadi viral di media sosial membawa dampak ekonomi yang besar bagi kota ini. Namun, di balik popularitasnya, aspek keamanan pangan dan higienitas street food kerap kali menjadi pertanyaan bagi para wisatawan maupun warga lokal. Untuk menjembatani antara popularitas kuliner dan standar kesehatan, Hakli Bandung meluncurkan sebuah program inovatif berupa pemberian apresiasi kepada pedagang yang mampu menjaga standar sanitasi yang tinggi dalam menjalankan usahanya.
Banyak pedagang yang memiliki cita rasa masakan yang luar biasa namun masih kurang dalam hal manajemen sanitasi, seperti cara mencuci alat makan yang benar atau pengelolaan sampah di sekitar gerobak. Hakli Bandung menyadari bahwa pendekatan sanksi tidak akan efektif dalam mengubah budaya berdagang. Sebagai gantinya, mereka melakukan pendekatan persuasif dengan cara melakukan inspeksi dan pendampingan teknis. Pedagang yang terbukti menerapkan prinsip higiene sanitasi pangan—seperti penggunaan celemek, penutup rambut, serta menjaga kebersihan sumber air—akan mendapatkan label sehat yang dapat dipasang secara mencolok di gerobak atau kedai mereka.
Pemberian label ini menjadi alat pemasaran yang sangat kuat bagi para PKL viral. Di era digital, konsumen semakin cerdas dan tidak hanya mencari rasa yang enak, tetapi juga jaminan bahwa makanan yang mereka santap diproses secara bersih. Dengan adanya stiker sertifikasi dari Hakli, kepercayaan pelanggan akan meningkat pesat, yang pada akhirnya akan mendongkrak omzet pedagang tersebut. Program ini menciptakan kompetisi sehat di antara para pedagang untuk saling berlomba meningkatkan standar kebersihan mereka demi mendapatkan pengakuan resmi dari otoritas kesehatan lingkungan.
Intervensi yang dilakukan oleh Hakli Bandung mencakup empat pilar utama: kualitas bahan baku, kebersihan lingkungan tempat berjualan, kesehatan penjamah makanan, serta pengelolaan limbah hasil produksi. Para ahli secara rutin melakukan pemantauan mendadak untuk memastikan bahwa standar yang telah ditetapkan tetap dijalankan dengan konsisten. Selain itu, mereka juga memberikan pelatihan tentang cara penanganan makanan yang mencegah kontaminasi silang, yang sering menjadi penyebab utama gangguan pencernaan pada konsumen. Langkah ini sangat krusial untuk menjaga reputasi Bandung sebagai kota tujuan wisata kuliner yang aman dan nyaman bagi siapa saja.
