Bandung Krisis Air: HAKLI Bandung Kenalkan Teknologi Filter Mandiri dari Barang Bekas

Kota Bandung saat ini tengah menghadapi tantangan serius terkait penurunan kuantitas dan kualitas cadangan air tanah akibat alih fungsi lahan dan pertambahan penduduk yang sangat pesat. Di beberapa wilayah pemukiman padat, kondisi Bandung krisis air telah memaksa warga untuk menggunakan sumber air yang kurang layak, seperti air sumur yang keruh atau berbau besi. Menghadapi situasi darurat ini, HAKLI Bandung melakukan langkah nyata dengan memberdayakan masyarakat melalui inovasi tepat guna. Mereka mulai secara masif kenalkan teknologi filter mandiri yang sangat ekonomis karena dibuat dari barang bekas, guna membantu warga mendapatkan akses air bersih yang aman untuk kebutuhan sanitasi sehari-hari.

Inovasi ini lahir dari pengamatan para ahli kesehatan lingkungan bahwa banyak limbah domestik yang sebenarnya bisa dialihfungsikan menjadi media penjernih air. Saat Bandung krisis air mulai meresahkan, penggunaan alat filtrasi pabrikan yang mahal tentu bukan solusi bagi masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu, HAKLI Bandung mulai kenalkan teknologi filter mandiri dengan memanfaatkan botol plastik besar, ember bekas cat, hingga pipa-pipa sisa bangunan. Dengan menyusun lapisan material seperti pasir, kerikil, arang batok kelapa, dan ijuk di dalam wadah dari barang bekas tersebut, warga dapat menyaring air keruh menjadi jernih dan bebas bau secara mandiri di rumah masing-masing.

Secara teknis, lapisan material di dalam wadah tersebut bekerja melalui prinsip filtrasi fisik dan adsorpsi kimiawi. HAKLI Bandung memberikan edukasi bahwa arang batok kelapa merupakan komponen kunci karena mampu menyerap zat besi dan senyawa organik yang membuat air berbau. Upaya untuk kenalkan teknologi filter mandiri ini sangat efektif dilakukan melalui demonstrasi di balai-balai RW. Penggunaan material dari barang bekas juga mendukung gerakan pengurangan sampah plastik di Kota Bandung. Dengan modal yang hampir nol rupiah, warga yang terdampak kondisi Bandung krisis air kini memiliki alat penjernih air darurat yang mampu menurunkan tingkat kekeruhan air hingga 80-90%.

Program ini juga menekankan aspek keamanan hayati agar air hasil filtrasi tetap sehat digunakan. Selain kenalkan teknologi filter mandiri, para ahli juga mengajarkan cara perawatan media filter agar tidak menjadi sarang bakteri. Penggunaan wadah dari barang bekas harus dipastikan telah dicuci bersih dan bebas dari sisa zat kimia berbahaya.