Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Faskes) merupakan tempat di mana masyarakat mencari kesembuhan, namun tanpa manajemen lingkungan yang tepat, area tersebut justru berisiko menjadi pusat penularan penyakit. Di wilayah Nusa Tenggara Timur, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Kupang menaruh perhatian serius pada kualitas udara dalam ruang, terutama di area dengan kepadatan pengunjung tinggi. Melalui inisiatif Audit Oksigen Ruang Tunggu, para praktisi kesehatan lingkungan melakukan pemantauan intensif guna memastikan bahwa rasio sirkulasi udara dan kadar oksigen di rumah sakit maupun puskesmas tetap berada pada level optimal untuk menunjang kesehatan pasien dan staf medis.
Kondisi geografis Kupang yang cenderung kering dan panas membuat gedung-gedung faskes sering kali bergantung pada sistem pendingin udara (AC) yang tertutup. HAKLI di Kupang menyadari bahwa ruang tunggu yang tertutup rapat dengan sirkulasi udara yang buruk dapat menyebabkan akumulasi karbon dioksida ($CO_2$) yang berlebih dan penurunan kadar oksigen. Fokus utama dari kegiatan audit ini adalah mengukur konsentrasi gas dalam ruang serta menghitung laju pergantian udara per jam (Air Change per Hour). Jika kadar oksigen menurun, pengunjung dapat mengalami gejala seperti pusing, kelelahan, hingga sesak napas, yang tentu saja akan memperburuk kondisi pasien yang sedang antre.
Dalam proses menjalankan Audit, para tenaga ahli kesehatan lingkungan menggunakan perangkat sensor gas portabel yang mampu mendeteksi partikel mikroskopis dan gas polutan secara real-time. Mereka melakukan pemetaan pada jam-jam sibuk di mana jumlah pengunjung mencapai puncaknya. Hasil pengamatan ini digunakan untuk mengevaluasi apakah sistem ventilasi yang ada, baik mekanis maupun alami, masih memadai untuk melayani volume manusia di dalam Ruang Tunggu. HAKLI Kupang menekankan bahwa kualitas udara dalam faskes adalah komponen krusial dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (Infection Prevention and Control), terutama untuk meminimalisir risiko penularan patogen yang terbawa udara (airborne).
Selain memantau kadar gas, HAKLI juga melakukan Pantau Kualitas Udara dari sisi kelembaban dan suhu. Di wilayah pesisir seperti Kupang, kelembaban yang terlalu tinggi di dalam ruangan dapat memicu pertumbuhan jamur pada dinding dan plafon, yang sporanya sangat berbahaya bagi penderita asma. Melalui rekomendasi teknis hasil audit, pengelola faskes didorong untuk melakukan renovasi pada sistem ventilasi silang (cross ventilation) atau menambah perangkat penyaring udara seperti HEPA filter pada area-area kritis. Langkah preventif ini bertujuan untuk menciptakan atmosfer penyembuhan yang aman dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat NTT.
